NU Esports League Adalah Cara NU Kenalkan Industri Digital ke Santri

NU Esports League adalah cara NU kenalkan industri digital ke santri. Salah satu kabar unik datang dari Banyuwangi dengan peresmian turnamen esports syariah. Di prakasai oleh salah satu organisasi Islam tertua Indonesia, Nahdatul Ulama bekerja sama dengan BESAF dan KEMKOMINFO maka dibuatlah NU Esports League.

Turnamen ini jadi simbolisasi peringatan kerja sama satu tahun antara BESAF dan NU. Mungkin terdengar aneh bagi masyarakat umum, kok NU bisa menyimpang dari ajaran tradisional dengan menyelenggarakan acara game segala bukannya dakwah atau pengajian?

Pertama, sebagai salah satu pekerja di industri esports, apresiasi dilayangkan untuk NU dan BESAF. Karena telah berani menentang arus dan kontroversi tentang “haram-halal” bermain game yang sempat viral akibat statement salah satu ustadz populer tanah air.

Aktivitas ini juga jadi pembuktian kalau umat Islam jauh dari kata ketinggalan jaman, bahkan punya pendekatan unik terkait melek teknologi. Caranya dengan membuka diri dengan event esports yang populer di kalangan anak muda Indonesia dan dunia.

Baca juga : Nigma Gagal Lolos ke ESL One LA

NU Esports League Adalah Cara NU Kenalkan Industri Digital ke Santri

Bila kita teringat pada pernyataan Sandiaga Uno pada debat Pilpres 2019 lalu tentang gamer ber-akhlakul karimah, mungkin ajang ini bisa jadi kesempatan konkrit bagi NU mengajarkan pada peserta bagaimana Islam memperlakukan orang lain dalam lingkup digital.

 

View this post on Instagram

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi bekerja sama dengan BESAF akan menyelenggarakan kompetisi BESAF NU ESPORT LEAGUE memperebutkan Piala PCNU Banyuwangi pada Maret sampai Juni 2020. Event ini terbuka untuk umum se-indonesia khususnya masyarakat Banyuwangi.

A post shared by BESAF (ESPORT & ENTERTAINMENT) (@besaf.official) on

Kemudian timbul pertanyaan. Kalau cuma main game saja apanya yang melek digital? Pertama, ketertarikan itu timbul akibat mencoba sesuatu. Baru memunculkan penasaran yang berakibat pada proses mencari tahu.

Apakah jadi dosa bila anak-anak pesantren yang jadi peserta di turnamen NU Esports League berkarir menjadi ahli IT kelak? Apakah diharamkan seorang santri mempelajari koding dan membangun start up besar berbasis industri digital kreatif?

Wallahua’lam, tapi yang pasti bila hal tersebut membawa kebaikan dan membantu umat pasti memunculkan rasa syukur yang ujung-ujungnya mengingatkan kita kembali atas nikmat Yang Maha Kuasa.

Kembali ke substansi esports, banyak pihak melihat aktivitas ini sebagai sumber ekonomi baru untuk anak muda. Banyak contoh nyata gamer yang sejahtera hasil berprestasi di olahraga digital ini. NU Esports League saja punya total hadiah 2 miliar rupiah. Untuk turnamen pilot, ini bukan angka main-main.

Bagi NU, misi mereka menghasilkan santri yang kuat iman, moderat, toleran dan tegak lurus tapi juga bisa berkontribusi di dunia nyata. Esports adalah pendekatan masa kini yang bisa diterima oleh anak muda. Esports merangkul aspek kesejahteraan ekonomi dan mengayomi kepentingan millenial.

Bukan tidak mungkin berkat acara ini branding dari NU bakal makin meluas terutama di kelompok usia muda. Meningkatkan ketertarikan mereka belejar agama dengan cara baru namun tetap dalam kaidah-kaidah yang diperbolehkan Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *